Postingan

Tari

 Sosok - sosok meliukan raganya dalam layar kecil Aku tak mengerti, arti seni yang ditampilkan disana Apakah pesan dengan makna atau kesenangan belaka? Mereka seperti berlomba mengejar nama di mata manusia meski jauh dari norma muda dan tua, mereka menari disana Sebuah pentas tanpa panggung pertunjukan tanpa undangan namun memikat tak sedikit insan Bergeraklah, liukan ragamu Sampai nanti kau tahu pupusnya rasa malu

Bayang

Ruang senyap yang sepi tak ada pelita Siapakah dia? terluka dan hampa Aku tersentak, berlari ketakutan Apakah ini nyata? dia mengikutiku,  terus mengejarku aku tertatih, terseok, menggapai pelita tanpa sadar berapa senja dan fajar kulewati dia tak berhenti  dia tak mau pergi dia menelusup dalam rasa yang dalam aku mengikatnya, memendamnya, menyimpannya menjadi bagianku aku terus melangkah mencari penerang sampai pada sebuah ruang terang dia bangkit lagi bayang kelam masa silam bisakah membiarkanku tenang?

Aku dan Taman

 Aku Sampai dimana bunga tak lagi mekar sempurna Aku Ketika di taman mulai sepi dan daun - daun jatuh berserakan Aku Menatap jengah pada sudut temaram lampu taman Aku Pada persimpangan pikiran buntu Apakah kunikmati saja temaram taman bersama mereka,  dan meninggalkan noda,  atau menunggu dalam hening sampai temaram berganti pagi,  dan bunga mekar sempurna lagi? Aku Menunggu, menatap rindu surya itu menjemputku.

Cerita Kamarin

Aku lelah dengan permainan waktu,berharap lebih pada suatu penantian yang tak kunjung datang, hingga undanganmu menjelang, hatiku remuk redam. Sungguh,mengiklaskanmu dengan yang lain adalah hal tersulit, namun ketidaksetianmu cukup membuatku yakin, bukan kamu yang bersanding denganku dikala hari baru terasa sulit.

Pernah Singgah

Menerawang jauh kedalam angan, Mengandai pada suatu yang tak dapat dicapai,  Kau adalah orang asing yang menjadikan malam bagai jerit pedih tak berkesudahan, Kau yang membuat siang bagai suatu kehampaan diantara kebisingan  Karnaa kau hati ini retak ketika jiwa berharap menjadikan kita satu dalam ikat suci  Namun, terlambat bagiku yang telah mencampakan banyak waktu  Cukup bagiku memandangmu dari jauh Menyembunyikan perih yang tak tau kapan sembuh  Takk mungkin aku tak rapuh  Rasa ini terlalu dalam tumbuh  Namun sesal hanyakan membuatku lumpuh Sedang waktupun tak kan merubah apapun Ia berlalu dan terus membuat hari baru Biarlah hati patah karna kau yang pernah singgah, berharap esok akan ada yang menetap